Berjuang Demi Setetes Air

oleh -381 views
Ilustrasi, Seorang ibu sedang berdoa meminta hujan di aceh utara. Foto : Zikri Maulana

Pembelajaran Dari Upaya Perlindungan Sumber Air Berbasis Kearifan Lokal Di Kawasan Ekosistem Seulawah

Kawasan Ekosistem Seulawah berada di Kemukiman Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Kabupaten Aceh Besar, Propinsi Aceh. Kawasan ini memiliki luas sekitar 6.220 ha dengan Kawasan Sumber Air Alur Mancang (KSAM) sebagai kawasan intinya.

Kawasan ini berbatasan langsung dengan Desa Sukadamai dan Sukamulia. Penduduk kedua desa ini berjumlah 425 kk, 300 kk berada didesa Sukadamai dan 125 kk di desa Sukamulia. KSAM merupakan satu-satunya sumber air mereka dan merupakan salah satu wilayah hulu dari DAS Krueng Aceh, sumber air utama bagi warga Kota Banda Aceh, ibukota Propinsi Aceh.

Kawasan ini juga kaya akan keanekaragaman hayati baik Flora dan Fauna langka seperti Harimau Sumatera (Panthera tigris Sumatrensis) dan Gajah Sumatra (Elephas maximus).

Meskipun telah ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya (TAHURA) Pocut Meurah Intan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 1/Kpts-11/1998, namun keberadaan kawasan ini tidak terlepas dari ancaman yang mengancam kelestariannya.

Berbagai aktifitas illegal seperti perambahan, penebangan liar, pembakaran hutan dan perburuan satwa terjadi dalam kawasan ini. Alih fungsi hutan menjadi kawasan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan memicu lajunya deforestasi.

Deforestasi yang terjadi berdampak pada timbulnya berbagai bencana. Stabilitas ketersediaan air tidak normal, pada musim hujan kerap terjadi banjir dan erosi yang membawa aliran lumpur, sedangkan pada musim kemarau terjadi kekeringan, debit dan kualitas air menurun secara drastis.

Deforestasi juga telah menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Berdasarkan data iklim selama 30 tahun dari Statisun Klimatologi BP2HT Saree dan Indrapuri – Aceh Besar tahun 1981 – 2011, menunjukkan telah terjadi perubahan iklim dari Tipe A ke Tipe B dan dari Tipe B ke Tipe C dalam klasifikasi iklim Schmith & Ferguson. Produksi pertanian menurun, tingkat kesejahteraan masyarakat juga menurun dengan indeks kemiskinan mencapai angka 15,5 % (BPS Kabupaten Aceh Besar, 2013).

Selama belasan tahun masyarakat Saree harus antri selama berjam-jam pada malam hari hanya untuk mendapatkan satu jeregen air bersih, sedangkan disiang hari air sangat sulit didapatkan. Untuk membeli air bersih, masyarakat harus mengeluarkan biaya sebesar Rp.10.000,-/hari atau Rp. 300.000,-/bulan untuk skala rumah tangga. Sedangkan untuk skala usaha, masyarakat harus mengeluarkan Rp. 50.000,-/hari atau p. 1.500.000,-/bulan.

Masyarakat Saree sepakat bahwa kondisi  ini tidak boleh terus dibiarkan, jika terus dibiarkan maka seluruh masyarakat di Kemukiman Saree harus mengungsi meninggalkan kampung halamannya.  Dengan semangat berjuang demi setetes air, pada tahun 2007 melalui musywarah adat masyarakat di Kemukiman Saree membentuk Forum Alur Mancang Saree (FAMS) dan menetapkan sebuah kawasan perlindungan yang diberi nama Kawasan Sumber Air Alur Mancang Saree (KSAM) seluas 602 ha.

Tujuannya adalah untuk mempertahankan keberlanjutan ketersediaan sumber air bersih bagi masyarakat di kemukiman Saree dan menjaga kelestarian Kawasan KSAM.

Dalam kurun waktu 2007 hingga 2018, berbagai upaya konservasi erus dilakukan baik secara swadaya maupun melalui kemitraan dengan pihak pemerintah ataupun swasta. Pengelolaan air bersih, patroli dan monitoring perlindungan kawasan, kampanye perlindungan kawasan, pendidikan dan penyadartahuan lingkungan, reboisasi dan rehabilitasi lahan serta pengembangan kawasan penelitian dan ekowisata menjadi program utama FAMS.

Kebutuhan akan air merupakan hak asasi setiap manusia dan mahluk hidup lainnya yang harus dipenuhi. Perjuangan demi setetes air melalui berbagai kegiatan konservasi yang dilakukan oleh FAMS telah memberikan hasil yang signifikan terhadap peningkatan kelestarian alam di KSAM serta meningkatnya debit air bersih.

Vegetasi hutan yang dulu dirambah kini mulai memulih. Populasi burung-burung dan satwa liar lainnya kini meningkat. Keterkaitan antara keberadaan vegetasi hutan dan ketersediaan air serta kehadiran satwa menjadi indikator penting bagi kelestarian kawasan ini.

Atas keterbatasan sumberdaya yang ada, FAMS membutuhkan dukungan dari berbagai pihak yang memiliki visi sejalan.”Jadilah gula pasti semut akan datangberbuatlah terlebih dahulu pasti akan datang yang mau membantu” merupakan filosofi FAMS untuk menjaring dukungan berbagai pihak dalam upaya pelestarian KSAM.

Selain melaksanakan kegiatan secara swadaya, pada tahun 2008 FAMS berhasil mendapatkan dukungan dari USAID – ESP yang bersimpati terhadap upaya pelestarian kawasan ekosistem Seulawah. Penguatan kapasitas organisasi, patroli dan monitoring perlindungan kawasan, pengelolaan air serta survey biodiversity merupakan kegiatan kemitraan yang telah dilaksanakan.

Pada tahun 2010, Desa Sukadamai dan Sukamulia mendapatkan dana dari dari program PNPM sebesar Rp. 150.000.000,-/desa. Melalui inisiasi FAMS, kedua desa sepakat menggabungkan dana tersebut untuk membangun bak penampungan air dan jaringan pemipaan dari KSAM ke pemukiman penduduk yang berjarak ± 3 km. Saat ini air sudah sampai ke rumah-rumah penduduk dengan mudah.

”Kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari sudah terpenuhi. Anak gadis di Saree yang dulunya mandi belum tentu sehari sekali, kini sudah bisa mandi dua kali sehari,” kata Anzurdin selaku ketua FAMS.

Industri-idustri rumah tangga untuk pembuatan tape, keripik dan kerajinan kuliner lainnya mengalami peningkatan produksi dan pendapatan hasil.

Pada tahun 2013, FAMS bersama-sama masyarakat mengamankan pelaku perambahan hutan di KSAM lalu menyerahkannya kepada pihak yang berwajib. Atas kesepakatan masyarakat sebagaimana yang dituangkan dalam peraturan adat Gampong, pelaku dikenakan sangsi adat dengan membayar denda sebesar Rp. 5 juta atas kerusakan yang telah ditimbulkannya.

Alokasi penggunaan dana ini kemudian dikembalikan lagi untuk mendukung operasional kegiatan perlindungan kawasan serta menghijaukan kembali yang telah dirambah tersebut. Peristiwa ini berkontribusi pada meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan.

Pada tahun 2012 – 2013, Kerjasama lainnya berhasil diperoleh melalui kemitraan dengan Porifera dan USAID – Serasi. Selanjutnya pada tahun 2014, atas rekomendasi dari TAHURA Pocut Meurah Intan, FAMS mendapatkan dukungan dari Fauna & Flora Internasioal Aceh Program.

Kegiatan kemitraan yang dilaksanakan adalah pembangunan jalur trail sistem untuk jalur patroli dan monitoring perlindungan kawasan, perbaikan jalur pemipaan air, sekolah alam untuk anak usia dini serta penanaman di areal-areal yang relatif terbuka.

Pembayaran Jasa Lingkungan melalui kegiatan pendidikan konservasi dan pengembangan ekowisata merupakan strategi untuk keberlanjutan program perlindungan KSAM secara mandiri oleh FAMS. Dari 425 kk yang ada di kemukiman Saree, FAMS mengutip iuran sebanyak Rp. 25.000,-/kk.

Alokasi pungutan dana tersebut adalah 70% untuk pengelola air yang sebahagian besarnya dikembalikan lagi untuk kegiatan perlindungan kawasan dan perbaikan jaringan pemipaan air, 20% untuk desa dan 10% untuk forum. Selain pembayaran jasa lingkungan yang diperoleh dari pengelolaan air tersebut, FAMS juga mendapat masukan dari aktifitas wisata dari para pecinta alam yang ingin mendaki gunung Seulawah dan dari Universitas Syiah Kuala (FMIPA) serta para peneliti yang ingin beraktiftas dalam Kawasan Ekosistem Seulawah melalui jasa guide.

Diluar dugaan, pada bulan Juni 2016, FAMS mendapakatkan penghargaan KALPATARU dengan predikat ”Penyelamat Hutan”. Sebagai tindak lanjutnya, pada tahun 2017, FAMS mendapatkan kehormatan mewakili Aceh dalam perlombaan Komunitas Peduli Sungai Tingkat Nasional untuk berbagi pengalaman tentang upaya perlindungan sumber air berbasis masyarakat.

Kebaradaan FAMS juga telah menginspirasi bangkitnya forum-forum peduli sungai lainnya baik di Aceh maupun di tingkat Nasional. Perjuangan demi setetes air kini telah membuahkan hasil. Titik cerah keberlanjutan program ”Perlindungan Sumber Air dalam Ekosistem Seulawah” sudah mulai terlihat

Atas keterbatasan yang tersedia yang dimiliki oleh FAMS, perjuangan demi setetes air masih harus menumpuh jalan yang panjang dan kerja keras. Dukungan dan kerjasama dari semua pihak yang memiliki visi yang sejalan sangat diharapakan dalam upaya meingkatkan kesejahteraan masyarakat yang sejalan dengan prinsip-prinsip pengelolaan hutan yang lestari.

Bekerjalah setulus hati. Jangan tinggalkan air mata, tapi tinggalkanlah mata air untuk anak cucu kita” merupakan pesan moral yang disampaikan dari perjuangan demi setetes air. Semoga tulisan ini bisa memotivasi pembaca untuk mereplikasi kegiatan berbasis masyarakat yang dilakukan oleh FAMS di wilayah lainnya di Indonesia.

 

Penulis : Yasser Premana

Praktisi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat

Email: yasser.premana2013@gmail.com