Juara UEFA Nations League, Pogba Mengaku Selalu Lapar Trofi

oleh -31 views
Pemain Prancis merayakan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan sepak bola final UEFA Nations League antara Spanyol dan Prancis di Milan, Italia, Senin (11/10) dini hari WIB.

Prancis mengalahkan Spanyol 2-1 pada final UEFA Nations League.

MILAN — Prancis mengembalikan statusnya sebagai tim top yang wajib disegani di Eropa. Setelah tampil buruk di Piala Eropa 2020, les Bleus menunjukkan mental juara pada UEFA Nations League edisi terkini.


Pada babak semifinal, tim Ayam Jantan menaklukkan Belgia 3-2 di Turin. Tim polesan Didier Deschamps sempat tertinggal 0-2 terlebih dahulu sebelum akhirnya membalikkan keadaan.


Selanjutnya, Prancis bertemu Spanyol di final. Situasinya nyaris serupa dengan pertandingan di babak empat besar. Gawang Les Bleus lebih dulu kebobolan. Tanpa menunjukkan kepanikan, anak asuh Deschamps mampu menyamakan kedudukan dengan cepat dan lantas berbalik memimpin. 


Papan skor di Stadion San Siro, Milan, Senin (11/10) dini hari WIB, menunjukkan angka 2-1 untuk kemenangan Les Bleus.


Gelandang Prancis Paul Pogba mengakui timnya memulai dengan buruk. Dalam 45 menit awal, La Roja mendominasi. “Setelah kebobolan, kami berhasil bereaksi. Pada akhirnya kami mendapatkan kemenangan. Selalu bagus ketika memenangkan trofi, dan Anda selalu lapar untuk hal itu,” kata Pogba, dikutip dari UEFA.com.


Bek Spanyol, Aymeric Laporte tak mampu menyembunyikan kekecewaannya. Ia merasa kubunya mengalami kekalahan menyakitkan. Pasalnya, ia melihat timnya tampil lebih baik di San Siro.


Namun justru kubu lawan yang keluar sebagai pemenang. Menurut Laporte, pasukan Negeri Matador menunjukkan kualitas hebat sebagai salah satu tim top. “Mungkin yang kurang dari kami hari ini adalah, sedikit keberuntungan,” ujar palang pintu kelahiran Prancis itu.


Penggawa Spanyol lainnya, Cesaz Azpilicueta menyuarakan hal serupa. Ia menilai La Roja menunjukkan ide sepak bola mereka dengan baik, meski berhadapan dengan juara dunia. Sayang sekali, saat memimpin, anak asuh Luis Enrique terlalu cepat kebobolan. Itu membuat kepercayaan diri Prancis meningkat dan akhirnya keluar sebagai pemenang.