Menari Di Ujung Pisau

oleh -477 views

“Ini Lia, wanita penggoda yang hampir mencuri malam Pamanmu, wanita jal*ng ini gagal menjadi kekasih gelap yang baik.” Bibiku seolah memperkenalkan seseorang padaku. Aku hanya bengong, menduga duga apa yang bibik maksudkan. Perutku langsung sakit,

“Minuman ini rasanya sedikit lebih manis, mungkin karena dia masih muda.” Sahut Mery. Aku muntah seketika, tidak bisa menahan lagi.

Suhu tubuhku bisa kurasakan, aku kini sudah bermandikan keringat.

“Kurang ajar!” Paman bangun dari kursinya, menamparku hingga aku tersungkur.

“Kau mau aku bikin untuk makanan tahun depan, hah?” Katanya lagi. Aku menyeret tubuhku, mencoba kabur namun terlambat sudah bagiku!

“Kanibal si*lan!” Teriakku! Ku paksakan untuk bisa terdengar,

Paman beranjak mengambil rantai anjing di bawah meja, melilitkannya dalam kepalan tangan, mendera betisku. Satu kali! sakitnya tidak membuatku berteriak,

“Plak,” pukulan kedua, mengenai lantai, suaranya terdengar seperti meriam. Rantai itu menderaku berkali-kali, gedebam gedebum.  Aku menggertakkan gigi, mengatup menahan sakit yang tidak bisa kugambarkan. Hanya saja eperti jatuh dari tebing ke bebatuan berkali kali, remuk dan napas tersengal-sengal, namun berharap tidak  mati sia-sia. Aku membisu tak bersuara agar mereka tidak menimatinya.

Tuhan, apakah sebelum lahir aku sempat mendaftarkan diri sebagai korban pembunuhan berantai di catatan kematian?

Kini jas putih Paman tampak berlumurkan darah. Bibi mendekat, mencium keningku. Lalu  tertawa lepas tanpa dosa. Penglihatan ku kian buram tapi masih tampak Mery membawa pisau pemotong steak, berbisik di telingaku.

“Aku sudah lama ingin merobek mulutmu, mencicipi daging lunak tanpa tulang.” Kini pisau itu mulai menari di bibirku.

Penulis: Apriledensor, Anggota FLP Takengon

#tantanganmenulis
#rabumenulis
#flptakengon
#pembunuhberantai
#kekasihgelap