Menari Di Ujung Pisau

oleh -477 views

Aku sudah tidak fokus, telingaku tampaknya kehilangan fungsi sejak tadi. Namun samar terdengar,

“Kau adalah produk gagal yang terpaksa kubesarkan.” Kata Paman berbisik ke telingaku. Pelan sekali, tapi hampir tidak menusuk perasaanku (lagi).

Sudah biasa ku dengar sejak 5 tahun yang lalu ketika kedua orangtuaku hilang entah kemana. Polisi sudah berhenti mencari, sehingga kasusnya ditutup dengan pernyataan orang hilang tanpa jejak. Aku tidak berharap mereka masih hidup dan aku sudah tidak peduli, karena begitulah seharusnya, kata Paman.

“Makan!” Perintahnya, bibirnya membentuk simertis, namun alisnya terangkat sebelah. Aku segera mengangkat garpuku.

“Pakai tangan saja, lebih nikmat.” Bibi ikut berseru dari seberang meja. Mery, anaknya tersenyum lebar melihatku. Tidak, itu bukan senyuman ramah, sekilas tampak seperti Ibu Peri jahat dengan tongkat sihirnya. Kapan saja bisa mengutukku menjadi mumi.

Aku ingat sekali dua tahun lalu, saat selesai mencuci piring, aku meletakkan perlengkapan dapur di atas meja, dia memperhatikanku dengan seksama dari balik pintu ruang tengah, matanya menyala seakan ingin menelanku. Tiba-tiba dia berlari dan menggila, membenturkan kepalaku ke atas meja. Tentu saja mejanya tidak pecah, hanya kepalaku saja yang mengeluarkan banyak darah. Dia menjambakku, berkali-kali sebelum menjilat setiap tetesan darah yang mengalir.

Paman ada disana kala itu, dan dia malah tertawa. Ya Tuhan, ini neraka bagian mana?

“Caklah Kau makan! Ini masih segar. Kau cobalah!” Mery berseru, menggodaku.

Aku memegang bagian daging yang masih empuk, sudah di panggang setengah matang, wajar saja warnanya masih sedikit segar. Aku yakin ini tendorloin dari sapi. Perlahan, aku menggigit potongan pertama. Lembut, tidak kaya akan rasa dan tidak menyisakan lemak di lidah. Iya, ini enak.