Tak Ada Sahur Kedua Untuk June

oleh -390 views

“Mey, aku juga puasa kok.” Katamu tiba-tiba, June. Aku terdiam! Arah pandangku seketika menjadi kaku, mau tersenyum tapi khawatir teman yang lain pada iseng. Iya, iseng cie cie in misalnya. Ah, tampaknya ke-GeEr-an ini sudah mendarah daging.

Meja bundar ini dipenuhi makan malam kita yang sudah tersaji lengkap. Lauk pauk yang tersusun rapi, tidak sabar rasanya untuk menyantap dengan lahap. Kita bagaikan keluarga besar yang sudah berkumpul disini, semuanya. Iya, kita ber-sepuluh, lalu ditambah lima orang anggota keluarga pak Kades, jumlah yang membagongkan menurutku.
Kami para ladies tinggal dengan pak Kades sedang 4 orang laki-laki menginap di kantor desa.

“Kan aku udah janji bakal nemenin kamu puasa.” Sambungmu lagi. Iya,¬† puasa sunnah di hari senin.
Aku masih menundukkan pandangan, berpura-pura fokus menuangkan minuman untuk berbuka. Harusnya untukku saja.

“Ini,” tanganku refleks menyuguhkan segelas bandrek aceh untuk kamu. Minuman khas di desa ini, Padang Tiji, Aceh. Tempat kita KKN (Kuliah Kernya Nyata).

Kamu hanya membalas senyumanku yang nampaknya tidak bisa lagi kusembunyikan, perasaan senang karna tahu bahwa kau juga puasa.

“Terus untuk kami mana?” Desember, ketua kelompok kita nyeletuk dan ‘merebut’ gelas yang akan kau minum. Aku kesal.

“Ini kan ada, tinggal tuang saja!” Ketusku.

“Kok untuk kami gak dituangin sekalian sih Mey,” saut Febri mengedipkan mata dengan centil, yang pada akhirnya mengundang tawa ria dan ekpresi usil dari seluruh personil rumah ini.

Kita duduk¬† tanpa kursi mengikuti bentuk meja. Tentu saja membuat wajah kita semua tampak sangat jelas dan aku tidak bisa memoles diri dengan rasa ‘percaya diri’ lagi untuk menutupi rasa malu. Mukaku rasanya akan terbakar sebentar lagi.

“Blash on nya kok masih merona sampai malam ya Mey?” Aku yakin itu bukan pertanyaan sesungguhnya dari Maret. Memancing semua teman-teman pada ngelirik heboh.

Aku menutup wajahku, bergeser tempat duduk ke samping Febri.